Mutiara Cinta
oleh Kiai Budi pada 24 Agustus 2011 jam 20:55
Sedulurku tercinta,bersyukurlah kalau engkau bisa berteduh dalam rumah--walau tidak megah,namun bisa untuk memadu cinta beserta seluruh keluarga.Bersuka citalah dirimu kala menikmati hidangan makanan untuk menegakkan daging dan tulang tubuh ini sehingga bisa tegak ibadahmu.Berbahagialah engkau kala bisa membungkus badan dengan busana yang bagus hingga tertutupi auratmu.Tersenyumlah engkau kala bepergian bisa menikmati nyamannya kendaraan--walau roda dua,menuju setiap tujuan persinggahanmu.Aku tersenyum atas anugrah yang ditaburkan kepadamu,terrirng do'a:semoga Dia selalu menjaga regukkan cinta ini,selalu.Pada sisi yang lain aku melihat wajah-wajah yang dirampas hak-haknya sebagai manusia:kekayaannya dijarah,kebebasannya dirampas,kehormatannya dicemari,dan keyakinannya dicurigai.Betapa beratnya mataku memandang,betapa beratnya andai bahuku memikul.Memang dunia berjodohan dari berbagai sisi sebagai relaitas:ada kaya ada miskin,ada menang ada kalah,ada,ada,ada,ada,ada.Namun bagaimana mungkin aku memalingkan ini semua,padahal mereka itu dalam raga adalah orang lain,tetapi dalam ranah Kesatuan--Tauhid itu,mereka adalah saudaraku,mereka adalah orang tuaku,mereka adalah kakakku,mereka adalah adikku,mereka adalah ayahku,mereka adalah ibuku,mereka adalah anak-anakku,mereka adalah diriku itu.Siapa yang dapat melupakan jerit tangis keluargaNya itu,mereka tergiring dalam arak-arakkan kehidupan--di tengah hidanganNya yang melimpah ini, dan dibiarka tanpa rumah,dibiarkan kehausan,dibiarkan kelaparan,dibiarkan,dibiarkan,dibiarkan,dibiarkan,dibiarkan.Aku terkenang akan Nabi Ya'kub yang punya anak dua belas,ketika salah seorang anaknya dihilangkan maka matanya memutih dan punggungnya melengkung karena terlalu banyak menangis,padahal anaknya itu sebenarnya masih hidup.Aku terkenang akan nasib saudaraku itu,kakakku itu,adikku itu,ayahku itu,ibuku itu,anakku itu,dimana mereka adalah keluarga kehidupanku,mereka adalah diriku.Aku menemukan mereka ada yang tidur di "emperan" toko,ketika bangun aku bertanya kepadanya:di mana rumahmu?Mereka menjawab:aku tidak punya rumah,hanya bumi ini sebagai lantainya,dan langit sebagai atapnya.Ketika aku bertanya kepada tukang becak begitu terbangun dari becaknya:apakah lebaran ini kau tidak mudik?Mereka menjawab:nanti setelah kami pulang dengan tangan berisi untuk keluarga kami.Ketika aku menemukan gelandangan tua di sudut kumuh kota:sekiranya engkau dijemput maut dalam keadaan terasing di negrimu sendiri,adakah orang yang memandikanmu dan menguburkanmu?Mereka menjawab dengan bibir bergetar:aku tidak tahu,aku tidak tahu,aku tidak tahu--sambil menetes deras air matanya.Ketika aku temukan anak-anak jalanan di "bangjo" suatu kota:masih adakah orang tuamu?Mereka menjawab dengan kethus:ada namun tiada!Ajaibnya,mereka aku lihat punya aura tanpa dendam kepada siapa pun:tidak kepada negara,tidak kepada presiden,tidak kepada mentri,tidak kepada DPR,tidak kepada panglima,tidak kepada walikota,tidak kepada gubernur,tidak kepada pegawai,tidak kepada kongklomerat,,tidak kepada satpol PP,tidak kepada Bupati,tidak kepada Camat,tidak kepada Lurah,tidak kepada RW,tidak kepada RT,tidak kepada diriku--di depan matanya.Ada di antara mereka itu yang menatapku dengan sangat tajam,sambil berkata lembut:jangan sebut siapapun atas nasibku ini,Dia menciptakan surga untuk siapa saja yang dikehendakinya,walaupun dia adalah budak dari Afrika,Dia menciptakan neraka buat siapa saja yang dikehendakinya,walaupun dia seorang "sayyid" dari Quraisy,tidakkah kau dengar firmanNya:apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka dan hari itu tidak pula mereka saling bertanya,demi Allah untuk hari Esok tidak ada yang bermanfaat selain amal sholeh yang kamu kerjakan.....Kawan-kawan,aku temukan orang seperti itu tanpa kemegahan jubah,tanpa pernik tasbih di tangannya,tanpa selendang serban di pundaknya,tanpa meja makanan di depannya,tanpa insitusi dan supremasi apa pun,tanpa,tanpa,tanpa,tanpa,tanpa.Dan aku tatap matanya,di sana ada kamus besar yang di dalamnya tidak ada kata lain,selain Allah,dan aku menemukan mutiara--mutiara Cinta,yang menjadikan langkahku terhuyung-huyung malu dibuatnya,sepanjang usia.....Barokalah!!!
